Langsung ke konten utama

Part 128; Solasta

 Di tengah perjalanan mereka menuju apartemen Rintarou setelah membeli bahan makanan untuk satu minggu ke depan, Rintarou tiba-tiba mampir terlebih dahulu ke salah satu kedai kopi untuk membeli dua gelas kopi untuk mereka. Karena ia tidak tahu apakah Osamu menyukai kopi atau tidak, jadilah Rintarou akhirnya memilih vanilla latte untuk Osamu dan Americano untuk dirinya.

    Setelah mengantri cukup lama, Rintarou kembali masuk ke dalam mobil dan memberikan segelas vanilla latte di tangannya pada Osamu. "Ini." Namun, Osamu tidak menerimanya dan malah menatap Rintarou kebingungan. "Buat lo, ambil." Sekali lagi Rintarou memberikan gelas itu pada Osamu dan akhirnya diterima oleh sang bodyguard.

    "Terima kasih, Tuan Muda," ujarnya lalu memandang minuman itu di tangannya.

    Awalnya Rintarou tidak menyadari itu karena ia sibuk meneguk americano miliknya sambil mengecek ponselnya yang menunjukkan pukul tujuh malam. Sampai ia kembali menoleh pada Osamu yang ternyata tidak segera meminum minumannya. "Kenapa engga diminum, Osamu?" tanya Rintarou membuat Osamu sedikit terkejut dan memandangnya. "Lo engga suka vanilla latte?"

    "Vanilla latte?" tanyanya balik, memandang bergantian antara minuman di tangannya dan Rintarou.

    Dan itu membuat Rintarou bingung. "Lo ... engga tahu, Sam? Di Amerika emangnya engga ada vanilla latte?" Osamu menggeleng tak yakin karena dia pu  tidak tahu apakah di negaranya dulu ada minuman semacam ini atau tidak. Karena Osamu tidak pernah meminum ini sebelumnya. "Astaga ... lo hidup di mana sih sebenernya?" Rintarou hanya geleng-geleng kepala lalu menunjuk minuman di tangan Osamu. "This is vanilla latte, one of the coffee menus. I don't know if you like coffee or not, that's why I bought a slightly sweet one for you."

    "Rasanya enak kok, coba lo coba dulu."

    Osamu lalu meneguk minuman di tangannya pelan setelah berpikir beberapa saat. Gerakan tangannya terhenti sebentar dengan mimik wajah seriusnya yang berubah terkejut. Mata bulatnya sedikit berbinar lalu melanjutkan meneguk minuman itu lagi.

    "Enak ...," cicit Osamu lalu memandang Rintarou dengan mata berbinarnya. "Namanya apa, Tuan Muda?"

    "Vanilla latte."

    "Vanilla latte, enak."

    "Lo suka?" tanya Rintarou.

    Osamu mengangguk bersemangat, wajahnya terlihat sumringah walaupun tidak terlalu kentara di antara wajah tanpa ekspresi miliknya. Tapi walaupun begitu saja, entah kenapa membuat jantung Rintarou sedikit berdetak kencang dan rasanya ... ia ingin menyunggingkan senyumnya melihat betapa menggemaskan tingkah Osamu di hadapannya. Tangannya bergerak menepuk pelan puncak kepala Osamu, membuat yang ditepuk terdiam saking terkejutnya.

    "Syukur deh kalau lo suka, dihabisin ya, Osamu."

    Pandangan mereka saling bertemu beberapa saat. Tubuh Osamu terasa berdesir ketika memandang netra kuning kecoklatan milik Rintarou juga senyumnya yang entah kenapa mampu membuat jantungnya berdetak memburu. Osamu menahan napasnya saat merasakan sesuatu terjadi pada tubuhnya dan itu sangat mengganggunya.

    Pencahayaan yang temaram di dalam mobil itu membuat Rintarou tidak menyadari jika wajah Osamu bersemu merah. Namun, Rintarou mencium sesuatu yang manis di dalam mobil itu. Sangat manis sampai membuatnya kehilangan kontrol tubuhnya. Rasa manis yang mampu memberikan kenyaman dan rasa tak puas hanya dengan menciumnya sekali. Entah dari mana, apakah dari vanilla latte milik Osamu?

    Rintarou menajamkan penciumannya, mencium ke segala arah untuk menemukan rasa manis ini sampai ....

    "Tuan Muda?"

    Tanpa sadar, Rintarou sudah mendekatkan wajahnya pada Osamu sehingga jarak di antara mereka berdua hany sejangkal saja. Osamu merasakan jantungnya tambah berdebar ketika netra sang tuan muda memandangnya penuh dan semakin lama, mengikis jarak di antara mereka. "Tu—tuan"

    "Kamu manis banget, Samu."

    Deg!

  Osamu membola melihat iris mata Rintarou berubah menjadi kuning safir, aura di sekitarnya terasa berat juga cara bicaranya yang berbeda. Benar-benar bukan seperti Suna Rintarou yang Osamu kenali. Hal itu membuat tubuh Osamu terasa tak nyaman dan ia tak bisa lari ke mana-mana. Seperti ada sesuatu yang menahannya dan memintanya untuk patuh.

    Kedua lengan Osamu meremas gelas minuman di tangannya, menutup matanya saat merasakan benda kenyal menyapa permukaan bibir Osamu yang tertutup. Tentu saja membuat Osamu menahan napasnya dan merasakan ciuman yang tiba-tiba itu. Osamu tidak berani membuka matanya dan memilih diam saat Rintarou bergerak mengecup pelan bibir ranumnya. Awalnya hanya kecupan biasa sampai Osamu merasakan sesuatu menerobos masuk ke dalam rongga mulutnya, menyapa lidah keluh Osamu.

    Refleks, ia mebuka matanya. Sebelah tangannya meremas kemeja yang Rintarou gunakan untuk menyalurkan afeksi aneh yang ia rasakan sekarang. Rasanya benar-benar membuatnya pening luar biasa sampai Osamu tidak tahu harus berbuat apa.

    "Hmmp—Tuan"

    Rasa manis itu menenggelamkan Rintarou pada sesuatu yang tak ia mengerti. Rasanya, ia ingin memiliki rasa manis di hadapannya dan menjadikannya miliknya. Lidah Rintarou terus bergerak, melumat lidah Osamu yang kaku untuk membalasnya. Sebelah tangan Rintarou mengelus punggung Osamu, menahannya agar tidak jatuh dan bergerak, menyelinap masuk ke dalam pakaiannya.

    Osamu dapat merasakan bagaimana hangatnya lengan Osamu mengelus sensual tubuhnya. "Tuan Mu—ahh ... hmp "

    Deg!

  Rintarou merasakan jantungnya berdetak sesak dan menyadarkannya kembali pada kenyataan. Melihat apa yang sedang ia lakukan pada Osamu, Rintarou segera menjauhkan tubuhnya pada Osamu yang terlihat sesak dan bersemu menahan afeksi yang Rintarou berikan padanya. Napas keduanya memburu, karena cumbuan yang cukup memburu barusan

    Tunggu!

    Apa yang Rintarou lakukan pada Osamu?!

    "Ma—maaf," ujar Rintarou pelan berusaha menemukan suaranya kembali. "Maaf, Osamu. Gue ... ngga tahu—maksudnya ngga nyadar dan ... shit! Maaf, Osamu." Rintarou tidak tahu harus berbicara apa saking terkejutnya sampai membuatnya kehilangan kata-kata.

    Apa barusan ... dia mencium Osamu?

    Rintarou refleks menyentuh belah bibirnya, pandangannya lalu tertuju pada Osamu yang terlihat sangat cantik dengan iris matanya yang berubah menjadi ungu safir di antara cahaya temaram. Hanya sekian detik, sampai Osamu menyadari sesuatu lalu memperbaiki posisi duduknya.

    Merasa canggung dengan apa yang terjadi barusan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part 78; Solasta S2

 Atsumu benar-benar tidak bisa melupakan kejadian tadi. Bukan karena ia yang tiba-tiba dipeluk oleh pria asing—namun karena satu nama yang pria asing itu ucapkan ketika ia menarik Atsumu ke dalam dekapannya. "Osamu!" Osamu. Atsumu yakin ia tidak salah dengar. Pendengarannya masih bagus dan ia benar-benar mendengar jika pria asing itu memanggilnya osamu. Nama yang sama dengan nama seseorang yang sedang ia cari selama ini. Saudara kembarnya. Sudah lebih dari sepuluh tahun Atsumu terus mencari keberadaan saudara kembarnya yang terpisah sejak ia diadopsi oleh keluarga Shimizu duabelas tahun lalu. Ketika usianya menginjak sepuluh tahun. Sejak insiden itu menimpa keluarganya yang menyebabkan ia dan saudara kembarnya harus tinggal di panti asuhan. Berkali-kali Atsumu mencari saudara kembarnya disetiap panti asuhan di Amerika—namun tak satupun yang menunjukkan keberadaannya. Mungkinkah... Osamu yang pria itu maksud sama dengan yang Atsumu cari? Tapi, pria itu salah mengenali dirinya ...

Part 77; Solasta S2

 Acara pertunangan tengah berlangsung ketika Suna Rintarou menginjakkan kakinya di aula besar pada salah satu hotel tenama milik keluarganya. Bersama seorang gadis di sampingnya—yang tengah mengapit lengannya—berjalan beriringan sampai-sampai banyak pasang mata tertuju pada mereka yang akhir-akhir ini memang menjadi topik hangat di dunia maya; perihal hubungan mereka saat ini. Melihat Rintarou datang bersama dengan Kiyoko pastinya akan membuat mereka masuk ke dalam topik perbincangan netizen lagi. Tapi melihat kedatangan mereka yang dihitung terlambat ini mungkin akan mengundang perbincangan negatif juga. Toh, bukan mau mereka datang terlambat. Ini karena jalanan kota yang mendadak macet sehingga mereka datang 15 menit setelah acara tukar cincin di laksanakan. Kiyoko menatap sekeliling aula yang begitu ramai untuk mencari adiknya sambil sesekali membalas sapaan para tamu yang menyapa mereka. Begitu pula dengan Rintarou yang sepertinya sudah menjadi pusat perhatian para pembisnis ya...

Part 87; Solasta

 Melihat tidak ada balasan dari Osamu membuat Rintarou akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah papanya untuk bertemu dengannya. Memastikan jika pria itu baik-baik saja karena tiba-tiba—entah karena alasan apa—perasaan Rintarou mendadak gelisah tak karuan. Rasanya sangat asing ketika Rintarou merasakan jantungnya berdetak gelisah begitu memikirkan Osamu, dan pikiran buruk tiba-tiba berlomba-lomba terlintas di benaknya. Membayangkan jika sesuatu terjadi pada Osamu. Apalagi, mengingat jika Osamu baru saja kembali dari pemeriksaannya hari ini.  Apa mungkin lukanya kambuh lagi? Atau terjadi sesuatu padanya di rumah? Selama perjalanan, pikiran Rintarou benar-benar kacau. Hampir membuatnya hilang akal menyebabkan ia hampir menabrak orang-orang yang menghalangi jalannya dengan mobil Chevrolet Camaro  hitam yang ia kendarai. Karena hanya satu yang rintarou pikirkan; ia harus sampai ke rumah papanya secepatnya. Begitu matanya melihat pagar tinggi menjulang di hadapannya. Rintarou ...